Minggu, 09 Desember 2018


MAKALAH PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA PRODUK SARDEN PT MAYA FOOD INDUSTRIES













Disusun Oleh
NAMA     : NIA INDAH FARADILLA
NPM        : 24417483
KELAS    : 2IC03







JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2018


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Meningkatnya jumlah industri besar di Pekalongan mengakibatkan kemajuanperekonomian masyarakat di kota tersebut. Beberapa industri besar tersebut bergerak dibidang perikanan. Jumlah industri besar di Pekalongan mengakibatkan volume pencemaran air semakin besar seperti sungai Sragi, Sengkarang,Pekalongan dan Meduni. Meningkatnya pencemaran perairan disebabkan karena sebagian besar unit usaha perikanan di kota Pekalongan langsung membuang sisa produk perikanan ke badan air terdekat. Industri tersebut hanya sebagian kecil yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengurangi konsentrasi bahan pencemar berbahaya sebelum dibuang ke badan air. Bahan pencemar berbahaya yang meningkat di perairan, akan membuat banyak masalah seperti rusaknya ekosistem perairan sungai, punahnya beberapa spesies ikan ekonomi di perairan sungai, serta minimnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi masyarakat kota Pekalongan.
Instalasi pengolahan air limbah merupakan kegiatan operasional yang tersusun secara sistematis dalam beberapa tahapan untuk melakukan pemurnian limbah cair sebelum dibuang ke badan air setempat. Pemurnian air bertujuan untuk memisahkan padatan yang tersuspensi dalam air limbah industri. Padatan tersebut harus dipisahkan karena mengandung bahan organik yang memerlukan waktu lama untuk diuraikan. Selain itu, terdapat beberapa bahan anorganik yang dalam jumlah banyak akan bersifat toksik pada lingkungan perairan seperti ammonia, sulfat, fosfor, karbondioksida. Pada umumnya, pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan metode fisika, kimia dan biologi. Metode fisika, dapat dilakukan dengan teknik filtrasi atau pengendapan untuk memisahkan antara padatan dan cairan pada air limbah. Metode biologi, umumnya menggunakan proses anaerob atau proses aerob untuk meningkatkan aktifitas bakteri pembusuk yang akan menguraikan bahan organik menjadi bahan anorganik. Metode kimia dilakukan dengan pemberian oksigen atau bahan kimia seperti ferosulfat atau tawas.
Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sangat menguntungkan bagi pihak perusahaan dan masyarakat sekitar tidak merasa dirugikan. Pencemaran perairan dapat dihindari sehingga ketersediaan air bersih untuk konsumsi masyarakat tetap terjaga dengan baik. Disamping itu, perusahaan pengolahan ikan juga mendapatkan keuntungan, karena limbah ikan dapat dimanfaatkan menjadi produk baru yang dapat dipasarkan ke masyarakat sekitar, seperti tepung ikan atau minyak ikan. 


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan Pengolahan Limbah
Menurut Ginting (1992), limbah merupakan buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Jenis limbah ada beberapa macam, dari zat pembentuknya, bentuk fisiknya dan sifat berbahaya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan limbah yang mempunyai tujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatkan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan. Total limbah yang dihasilkan oleh PT Maya Food Industries Pekalongan berasal dari limbah ekonomis dan limbah non-ekonomis. Limbah ekonomis merupakan buangan yang masih dapat digunakan kembali seperti sisa potongan ikan. Sedangkan limbah non-ekonomis merupakan limbah yang tidak dapat digunakan kembali. Limbah non-ekonomis ditimbulkan dari kegiatan non-produksi seperti laboratorium, sanitasi, kamar mandi, dapur, kantor, pertamanan.

Sarana Pengolahan Air Limbah
1.         Gedung
Sarana gedung meliputi ruang staf, ruang generator dan ruang penyimpananperalatan. Ruang staf berjumlah tiga ruangan, yang berfungsi sebagai tempatpengawasan proses IPAL dan tempat istrahat bagi pekerja. Ruangan staf tersebardi tiga lokasi yaitu, bagian depan pabrik, di sebelah kiri ruang generator dan dilokasi IPAL tersebut. Ruang generator terletak di bagian depan area IPAL,sedangkan ruang peralatan yang berjumlah satu buah terletak di sebelah kananruangan staf.
2.         Bak Instalasi Pengolahan Air Limbah
PT Maya Food Industries Pekalongan, menggunakan bak beton sebagaisarana penampungan dan proses penjernihan air limbah industri. Hal tersebutdisebabkan letak geografis PT Maya Food Industries yang berada di daerah tepi

3.         Proses Pengolahan limbah cair
a.          Pretreatment
Pengolahan tahap pertama bertujuan untuk mengurangi jumlah padatantersuspensi melalui proses penyaringan dan pengendapan sedimentation). Proses tersebut akan menurunkan kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik. Limbah cair yang berasal dari seluruh devisi akan di alirkan menuju bak penampungan limbah cair pertama. Selanjutnya, air limbah akan dipompa menujubak penampungan kedua. Ketika proses pemindahan berlangsung, limbah cairakan melewati alat penyaring (screener) sebelum mencapai bak kedua.
b.         Screener
Berfungsi untuk mengurangi jumlah padatan yang berukuran > 1,5 mm. Bilakotoran pada alat screener telah menumpuk, maka petugas IPAL akanmembersihkannya secara manual. Limbah cair dari tempat penampungan keduaakan di pompa menuju bak pengendapan. Pada proses pengendapan tersebut, tidakdiberi zat kimia tambahan untuk membantu proses penggumpalan bahan organikterlarut. Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan sedimen sekitar enam jam.Limbah yang tidak menggumpal akan dipompa menuju bak ekualisasi.
c.          Proses Ekualisasi (equalitation)
Ekualisasi bertujuan untuk menghomogenkan limbah cair agar tidakterjadi pengendapan serta menampung limbah cair. Dalam homogenisasi limbahcair agar tidak terbentuk endapan didasar kolam digunakan mixer yang terdapatdalam bak. Sirkulasi air dari bak ekualisasi menuju bak treatment berikutnya menggunakan submerble pump atau pompa celup (36 m3/jam). Pengeluaran airdari bak ekualisasi dijaga konstan selama 24 jam agar pasokan air limbah pada bak treatment selanjutnya terpenuhi. Proses tersebut dilakukan dengan cara pemompaan ke kolam selanjutnya demi menjaga volume pasokan yang masukpada proses treatment sebelum kontak dengan sistem lumpur aktif.
d.         Proses Anaerobik
Pada tahap ini terjadi proses penguraian bahan organik secara anaerobic dalam suatu wadah beton. Pemecahan bahan-bahan organik pada limbah cair dilakukan oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen pada kolam. Menurut Helard(2006), jenis bakteri yang sering digunakan pada proses anaerobik yaitu Desulfomaculum sp, Clostridium sp, Pseudomonas sp, dan Bacillus sp. Bahan organik akan terdegradasi dalam waktu tiga hari. Keaktifan bakteri anaerob dalam treatment  ditandai dengan bau air limbah yang tidak amis, keluarnya gelembung udara dari dasar kolam sebagai hasil respirasi anaerob bakteri. Apabila bakteri mengalami koleps maka akan terjadi bau yang menyengat serta munculnya endapan hitam ke permukaan air. Bau menyengat tersebut timbul karena bahan organik yang tidak diuraikan oleh mikoorganisme dalam bak anaerob. Hasil yang diharapkan pada proses ini adalah air limbah dengan nilai amoniak kurang dari 5mg/L sesuai dengan Perda Jateng (2012).
e.          Proses Aerobik
Pada tahap ini, mengacu pada penghapusan polutan organik dalam air limbah sehingga akan terjadi aktivitas aerobik yaitu pemecahan bahan-bahan organik pada limbah cair oleh bakteri yang memerlukan oksigen. Menurut Sutoro dalam Zahidah (2013), bakteri aerobik yang umum digunakan adalah Aerobactersp, Nicrobacter sp, Nitrosomonas sp, Saccaromeces C, Bacillus sp. Pada bakaerob akan terbentuk seperti lumpur di permukaan kolam. Hal tersebut terjadi karena bakteri bersifat aerob yang membutuhkan oksigen sehingga bakteri beraktifitas di permukaan untuk mengambil oksigen. Aerasi dilakukan dengan mengalirkan udara yang dihasilkan oleh aerator ke dalam pipa yang teradapat pada bak aerobik sehingga mikroorganisme dapat bekerja optimal dalam menguraibahan organik pada air limbah.
f.            Pengendapan (settling)
Settling merupakan proses mengendapnya zat yang lebih berat di dalamzat ringan, misal air dalam minyak. Pada tahap ini terjadi pemisahan antara partkel padat dan partikel cair. Hasil dari proses pengendapan (settling) dialirkan ke thickener untuk mengurangi volume lumpur sekaligus yang larut dalam limbahcair.
g.         Thickener 
Merupakan tempat penampungan lumpur hasil settling. Sedangkan tempat untuk menampung lumpur pada proses pretreatment ditempatkan pada tempat yaitu sludge drying bed. Menurut Sugiharto (1987), thickener digunakan untuk menghasilkan hasil buangan yang jernih sebelum dibuang ke badan air.
h.         Pembuangan Akhir
Advanted wetland adalah suatu lahan yang dipenuhi air untuk mendukung pertumbuhan tanaman air (Arthono, 2000). Pada tahap ini setelah proses settling selesai, air tanpa lumpur hasil settling akan dialirkan ke area advanted wetland. Pada advanted wetland terdapat berbagai jenis tanaman yang ditumbuh kandengan media kerikil, setiap tanaman memiliki tugas menyerap zat-zat tertentu. Tanaman tersebut berfungsi sebagai penyaring dan menyerap zat anorganik yangterdapat dalam air limbah. Tanaman yang digunakan antara lain tanaman melatiair, rumput gajah, reed, lidah mertua. Pada tahap ini terdapat proses tambahanberupa bak aerasi yang digunakan untuk menurunkan kadar amoniak yang masihtinggi. Air hasil advanted wetland ini akan dilepas ke sungai.PT Maya Food Industries Pekalongan melakukan pengecekan mutu airlimbah yang di lepas ke badan air setiap bulan. Pengecekan tersebut dilakukan oleh pemerintah BPPI (Badan Pemerintah dan Pengembangan Industri). Setelah pengecekan selesai dilakukan dan data laporan sudah dibuat, data laporan akan dikirim ke Dinas Lingkungan Hidup kota Pekalongan, Dinas Lingkungan Hidup provinsi Jawa Tengah serta Kementrian Lingkungan Hidup Jakarta. Dari hasil uji kualitas air buangan yang dilakukan, PT Maya Food Industries merupakan perusahaan yang telah melakukan pengolahan limbah dengan baik. Dari data yang dilaporkan, tingkat pencemaran air sangat rendah dan memenuhi standart baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah tentang limbah industry perikanan.




Daftar Pustaka


https://www.academia.edu/16555298/pengolahan_limbah_cair_di_PT_Maya_Food_Industries